Pages

Thursday, 9 June 2016

IDENTIFIKASI REAKSI DAN SENYAWA KIMIA DALAM PROSES PEMBUATAN GULA AREN

IDENTIFIKASI REAKSI DAN SENYAWA KIMIA
DALAM PROSES PEMBUATAN GULA AREN






                                                                             Oleh:
             1.      Nuriska Ela Safitri                      (12030654057)
             2.      Ma’murotus Sa’idah                  (12030654209)
             3.      Glorya Rysty Ningtyas              (12030654231)
             4.      Indraini Ida Safitri                     (12030654235)
             5.      Rahmania Firda                          (12030654249)




UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN IPA
2015



BAB I
PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia yang dijadikan bahan pelengkap makanan untuk menambah rasa manis. Gula yang dikonsumsi masyarakat terdiri dari beberapa macam, salah satunya adalah gula aren. Bahan baku pembuatan gula aren berasal dari nira yang didapat dari hasil penyadapan pada pohon aren. Tanaman Aren (Arenga pinnata) punya banyak kegunaan, persis pohon kelapa. Dengan masa tanam hingga berbuah selama 8-10 tahun, pada setiap pohon aren jantan dapat menghasilkan nira sebanyak 15 liter, dimana 10 liternya bisa menjadi 1 kg gula aren. Alam Indonesia yang merupakan wilayah tropis memungkinkan pohon aren untuk tumbuh subur. Terlebih pohon aren merupakan tanaman yang bisa tumbuh di berbagai kondisi lingkungan asalkan tidak terlalu asam. Hal ini memungkinkan para pembuat gula aren bisa tetap menjalankan usahanya dengan bahan baku yang mencukupi.
Sebagai bahan makanan, gula aren memiliki nilai gizi yang cukup baik dengan berbagai kandungan senyawa di dalamnya. Pada proses pembuatan gula aren dari pohon aren sudah berlangsung sejaklama dan dipraktekkan oleh masyarakat desa sulawesi utara secara turun-temurun. Teknik pembuatan dari satu tempat ke tempat lainnya relatif seragam dan tidak mengalami perubahan yang nyata selama bertahun-tahun. Peralatan yang digunakan dan cara pengolahan masih dilakukan secara sederhana dan apa adanya. Perkembangan dewasa ini, para petani gula aren mulai mengembangkan produk turunan dari gula aren, yaitu gula semut yang proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pembuatan gula aren biasa.
Pada penelitian ini akan dibahas tentang proses pembuatan gula aren, reaksi yang kimia yang terjadi pada gula aren selama proses pembuatan, dan kandungan gula aren.
    B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana proses pembuatan gula aren dari nira kelapa?
2.      Bagaimanakah reaksi kimia yang terjadi dalam proses pembuatan gula aren?
3.      Bagaimana kandungan senyawa kimia pada gula aren?

    C.    Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Menjelaskan cara pembuatangula aren dari nira kelapa
2.      Menjelaskan reaksi kimia yang terjadi dalam proses pembuatan gula aren.
3.      Menjelaskan kandungan senyawa kimia dalam gula aren



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tanaman Aren (Arenga pinnata)
Tanaman Aren (Arenga pinnata) punya banyak kegunaan, persis pohon kelapa. Aren atau enau (Arrenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi dan dapat tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Tanaman aren bisa tumbuh pada segala macam kondisi tanah, baik tanah berlempung, berkapur maupun berpasir. Namun pohon aren tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi. Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal pada tanah yang memiliki ketinggian di atas 1.200 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 250 celcius. Di luar itu, pohon aren masih dapat tumbuh namun kurang optimal dalam berproduksi.
Dengan masa tanam hingga berbuah selama 8-10 tahun, pada setiap pohon aren jantan dapat menghasilkan nira sebanyak 15 liter, dimana 10 liternya bisa menjadi 1 kg gula aren. Tidak berhenti sampai disitu, sebagaimana tanaman singkong, sorgum, ubi jalar, jagung, dan jarak pagar, nira aren dapat menjadi 1.3 liter bioethanol. Tentu kita tahu bahwa bioethanol adalah salah satu jenis bahan bakar /sumber energi terbarukan.
Selain gunanya sebagai bahan bakar, kandungan gizi gula aren ternyata juga cukup baik. Dibandingkan gula tebu, gula aren memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah yaitu sebesar 35 sedangkan pada gula pasir indeks glikemiknya sebesar 58.
Sebagai informasi, Indeks Glisemik (Glychemic Index) adalah skala atau angka yang diberikan pada makanan tertentu berdasarkan seberapa besar makanan tersebut meningkatkan kadar gula darahnya, skala yang digunakan adalah 0-100. Indeks glikemik disebut rendah jika berada di skala kurang dari 50, indeks glikemik sedang jika nilainya 50-70 dan indeks glikemik tinggi jika angkanya di atas 70.
Para ahli mengungkapkan nilai indeks glikemik yang lebih rendah ini membuat gula aren lebih aman dikonsumsi dan tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang signifikan, sehingga bisa membahayakan tubuh terutama bagi penderita diabetes. Serta semakin gelap warna gula, maka kadar nutrisinya cenderung lebih banyak.
Selain kandungan gulanya yang lebih sedikit, gula aren juga diketahui mengandung senyawa-senyawa lain yang bermanfaat sepertithiamine, riboflavin, asam askorbat, protein dan juga vitamin C. Bahkan ada yang  menjamin bahwa tanaman aren dapat mengobati batu ginjal, sariawan, dan ruam kulit.

B.     Cara Pengolahan Gula Aren
Bahan dasar untuk pengolahan gula merah aren adalah nira yang masih segar, rasa manis, tidak berwarna dengan pH 6-7 dan total asam 0,1%. Mutu gula merah yang dihasilkan ditentukan oleh bahan baku yaitu nira, apabila pH < 6 tidak diolah menjadi gula  tetapi diolah menjadi cuka atau alkohol. Untuk mendapatkan nira yang memenuhi syarat sebagai bahan baku pembuatan gula, wadah penampung nira di pohon dicuci dengan nira yang mendidih. Nira yang ditampung dengan wadah ini memiliki ph 6,2-6,8 dan kadar sukrosa 12  -15%  
Prinsip pembuatan gula aren adalah menguapkan air dalam nira sampai kekentalan tertentu, kemudian nira kental dicetak menggunakan cetakan (Suhardiyono, 1991). Bahan baku nira kelapa umumnya diperoleh dari hasil panen pohon kelapa sendiri atau pohon kelapa tetangga yang digarap dengan sistem bagi hasil (Ningtyas, 2012). Nira kelapa diperoleh dari penyadapan tandan bunga kelapa yang dilakukan pada pagi dan sore hari. Nira disadap dari tandan bunga jantan, dengan lama penyadapan dua hingga tiga bulan/tandan. Hasil sadapan pada pagi hari dikumpulkan, dan sebelum pengolahan nira hasil sadapan diberi kapur 2 g/l nira, dipanaskan sampai mendidih dan digabungkan dengan hasil sadapan sore hari, dimasak bersama pada malam hari. Biasanya para pengrajin gula merah mampu memanjat 35-40 batang kelapa/hari dengan nira yang dihasilkan yaitu 0,5-2 liter/batang. Setiap 20 liter nira mampu menghasilkan 5 kg gula merah kelapa sehingga kapasitas produksi pengrajin gula merah kelapa mencapai 5-20 kg/hari (Marsigit, 2005). Peralatan yang digunakan dalam pembuatan gula merah kelapa meliputi : tungku pemanas/kompor, wajan, pengaduk kayu, sendok, saringan, dan cetakan.
Proses penyadapan membutuhkan waktu yang lama, nira kelapa mudah mengalami fermentasi karena mengandung sukrosa yang tinggi. Setelah proses penyadapan, nira kelapa harus langsung diolah karena akan terjadi kerusakan jika tidak langsung diolah yang ditandai dengan warna nira menjadi keruh dan kekuning-kuningan, rasa asam dan bau yang menyengat. Kerusakan ini terjadi karena pemecahan sukrosa menjadi gula reduksi, proses pemecahan ini terjadi karena rendahnya pH nira (Santoso, 1993; Aryati, 2005). Mikroba yang berperan dalam proses hidrolisis sukrosa menjadi gula reduksi adalah golongan khamir dan bakteri. Jenis khamir yang dominan mencemari nira adalah Saccharomycescereviceae, sedangkan jenis bakteri yang dominan adalah Leuconostocmesenteroides dan Lactobacillus plantarum (Martoyo, 1989). Menurut Dachlan (1984) , proses kerusakan nira diawali dengan proses inverse sukrosa, kemudian proses fermentasi dan diakhiri dengan proses oksidasi menghasilkan asam asetat. Reaksi yang terjadi yaitu :
1.      C12H22O11 + H2O                  C6H12O6 + C6H12O6
Sukrosa                                 glukosa            fruktosa
Pada reaksi ini terjadi inversi bila nira sedikit asam atau terdapat enzim β-fruktofuronosidase
2.      2C6H12O6                  4CO2 + 4C2H5OH
Glukosa/fuktosa                    etanol
Pada reaksi ini terjadi proses fermentasi
3.      4C2H5OH + 4O2                   4CH3COOH + 4H2O
Etilalkohol (etanol)               asam asetat
Pada reaksi ini terjadi proses oksidasi
Nira yang telah rusak jika diolah akan menghasilkan gula merah yang tidak dapat dicetak atau menyerupai dodol, sekalipun nira berhasil dicetak menjadi gula merah maka hasil olahan tidak akan bertahan lama dan akan menjadi gula merah bermutu rendah dalam bentuk gula bertekstur lunak (Agus, 2013).
Gula cetak diperoleh dengan cara menguapkan air nira dan dicetak dalam berbagai bentuk, antara lain ukuran setengah tempurung kelapa, ukuran balok,  ataupun bentuk lempengan. Pengolahan gula merah aren dilakukan oleh industri rumah tangga, dan digunakan sebagai pemanis, penyedap dan pemberi warna pada berbagai jenis makanan.Cara pengolahan gula cetak, yaitu  nira disaring, dituangkan kedalam wajan dan dipanaskan di atas tungku.
Proses pembuatan gula aren dimulai dengan penyaringan nira dengan kain penyaring untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya nira yang telah bersih dimasukkan ke dalam wajan dan dimasak sambil diaduk. Pemanasan nira menggunakan tungku dan selama pemanasan akan timbul busa yang dapat meluap. Agar busa nira tidak meluap sampai atas wajan, nira harus diaduk dan ditambahkan minyak kelapa (1 sendok minyak kelapa untuk 25 liter nira). Selama pemanasan, warna nira berubah, dari putih kekuningan sampai menjadi coklat tua. Pemanasan dihentikan pada saat larutan nira menjadi kental dan berwarna coklat kemerahan. Untuk mengetahui waktu penghentian pemanasan, larutan nira panas diteteskan ke dalam air. Apabila tetesan larutan ini mengental maka pemanasan dihentikan. Wajan diangkat dari tungku, larutan diaduk kemudian dimasukkan ke dalam cetakan, setelah kering, gula dikeluarkan dari cetakan dan dikemas menggunakan daun pisang kering atau plastik. Agar gula tidak berwarna coklat tua, ditambahkan natrium bisulfit  sebanyak 0,02%. Penggunaan kayu bakar dalam pengolahan gula cetak berkisar 0,25 m3 untuk pemasakan nira sebanyak 100 liter nira, dan menghasilkan gula sekitar 10-12kg.


BAB III
KESIMPULAN

Prinsip pembuatan gula aren adalah menguapkan air dalam nira sampai kekentalan tertentu, kemudian nira kental dicetak menggunakan cetakan (Suhardiyono, 1991). Nira yang diperoleh berasal dari penyadapan tandan bunga jantan pada kelapa.Peralatan yang digunakan dalam pembuatan gula merah kelapa meliputi : tungku pemanas/kompor, wajan, pengaduk kayu, sendok, saringan, dan cetakan.Proses pembuatan gula aren dimulai dengan penyaringan nira dengan kain penyaring untuk menghilangkan kotoran. Selanjutnya nira yang telah bersih dimasukkan ke dalam wajan dan dimasak sambil diaduk. Pemanasan nira menggunakan tungku dan selama pemanasan akan timbul busa yang dapat meluap. Agar busa nira tidak meluap sampai atas wajan, nira harus diaduk dan ditambahkan minyak kelapa (1 sendok minyak kelapa untuk 25 liter nira). Selama pemanasan, warna nira berubah, dari putih kekuningan sampai menjadi coklat tua. Pemanasan dihentikan dan gula harus segera dimasukkan dalam cetakan
Gula aren mengandung senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tubuh sepertithiamine, riboflavin, asam askorbat, protein dan juga vitamin C.Bahkan ada yang  menjamin bahwa tanaman aren dapat mengobati batu ginjal, sariawan, dan ruam kulit.
Reaksi yang terjadi pada proses pembuatan aren, yaitu :
4.      C12H22O11 + H2O                  C6H12O6 + C6H12O6
Sukrosa                                 glukosa            fruktosa                 
Pada reaksi ini terjadi inversi bila nira sedikit asam atau terdapat enzim β-fruktofuronosidase
5.      2C6H12O6                  4CO2 + 4C2H5OH
Glukosa/fuktosa                    etanol
Pada reaksi ini terjadi proses fermentasi
6.      4C2H5OH + 4O2                   4CH3COOH + 4H2O
Etilalkohol (etanol)               asam asetat

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Makalah Cara Pembuatan Gula Aren. (Online), (http://www.tooloz.com/2012/04/makalah-cara-pembuatan-gula-aren.htmldiakses pada 1 Maret 2015).
Anonim. 2014. Cara membuat Gula Merah Kelapa. (Online), (http://isparmo.web.id/2014/10/18/cara-membuat-gula-merah-kelapa-gula-jawa/, diakses pada 1 Maret 2015).


MIITIGASI BENCANA BANJIR


TUGAS SAINS KEBUMIAN
MITIGASI BENCANA BANJIR




                              


Kelompok 6
1.      Nuriska Ela Safitri           12030456057
2.      Ma’murotus Saidah         12030654209
3.      Milda Dwi Lestari            12030654243
4.      Kamila Munisa                 12030654246


PENDIDIKAN IPA 2012 B
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015





MITIGASI BENCANA BANJIR

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).   Sedangkan, bencana adalah peristiwa yang mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat berupa kebakaran hutan, tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir, longsor, dan lainnya.
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air yang terjadi karena air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya akibat dari curah hujan yang tinggi. Banjir disebabkan oleh beberapa faktor antara lain curah hujan yang tinggi, sungai yang semakin dangkal akibat erosi yang di bawa oleh sungai berupa material lumpur, pasir, kerikil, dan kayu hasil penebangan liar, masyarakat banyak yang membuang sampah di sungai sehingga air sungai terhambat dan terhalang oleh sampah yang menumpuk di sungai, menyempitnya aliran sungai akibat pembangunan yang bertambah ke arah bagian tengah sungai, bendungan dan saluran air rusak, penebangan hutan secara liar dan tidak terkendali, keadaan tanah tertutup paving atau aspal sehingga tidak dapat menyerap air, pembuatan tanggul yang kurang baik, air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan.

 
Mitigasi bencana banjir perlu dilakukan. Apalagi sekarang sedang memasuki musim penghujan. Beberapa provinsi di Indonesia sering terjadi banjir misalnya di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogjakarta dan Jawa Timur.

Mitigasi bencana sebelum terjadi bencana banjir perlu dilakukan untuk mengurangi resiko banjir. Berikut merupakan hal-hal yang harus dilakukan sebelum terjadi banjir:
1.      Membuat sumur resapan diantara sela paving atau jalanan beraspal supaya air dapat meresap ke dalam tanah.
2.      Menjaga kebersihan saluran air seperti sungai dan limbah misalnya tidak membuang sampah di sungai.
3.      Menanam lebih banyak pohon besar.
4.    Memindahkan tempat hunian ke daerah bebas banjir atau tinggikan bangunan rumah hingga batas ketinggian banjir jika memungkinkan.
5.      Membentuk kelompok masyarakat pengendali banjir. Tugas dari kelompok pengendali banjir ini antara lain, membangun atau menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir, membangun sistem peringatan dini banjir, membangun kanal atau saluran. Selain itu masyarakat dapat bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga daerah resapan air, memberikan penyuluhan dan pelatihan mitigasi bencana banjir.
Jika tetap terjadi banjir, maka mitigasi bencana banjir yang dapat kita lakukan yaitu :
1.      Jangan panik
2.   Terus pantau perkembangan cuaca dan ketinggian air, bila hujan terus terjadi tidak henti-hentinya, dihimbau waspada dan berhati-hati untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, dengarkan jika ada informasi darurat tentang banjir.
3.      Matikan peralatan listrik/sumber listrik.
4.  Selamatkan barang-barang berharga dan dokumen penting sehingga tidak rusak atau hilang terbawa banjir.
5.      Ketika melihat air datang, segera selamatkan diri dengan berlari secepat mungkin menuju tempat yang lebih tinggi.
6.      Apabila terjebak dalam  rumah atau bangunan, raih benda yang bisa mengapung sebisa mungkin.
7.      Bila terpaksa pergilah ke tempat pengungsian.
8.      Memperhatikan kesehatan dan menggunakan air bersih dengan efisien.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sesudah terjadi bencana banjir antara lain:
1.      Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah dari lumpur dan sampah
2.     Menjaga agar sistem pembuangan limbah dan air kotor agar tetap bekerja pada saat terjadi banjir.
3.     Jangan menyalakan listrik kecuali telah dinyatakan aman.

4.    Periksa persediaan makanan dan air minum. Jangan minum air dari sumur terbuka karena sudah terkontaminasi. Makanan yang telah terkena air banjir harus dibuang karena tidak baik untuk kesehatan.

Pranata Mangsa & Pranata Mina

TUGAS IPBA
Pranata Mangsa & Pranata Mina


                              

                                        Oleh:
Ma’murotus Sa’idah
(12030654209)


PENDIDIKAN IPA 2012 B
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015



Pranata Mangsa & Pranata Mina


1.  Pengaruh Pemanasan Global terhadap akurasi “Pranata Mangsa”
Pemanasan Global (Global warming)
Sinar matahari yang masuk ke dalam bumi menembus lapisan atmosfer bumi. Radiasi sinar matahari tersebut kemudian dipantulkan kembali ke angkasa, namun sebagian radiasi tersebut diserap oleh gas-gas rumah kaca yang berada di atmosfer bumi. Akibatnya, sinar matahari yang terperangkap di dalam atmosfer bumi menyebabkan suhu rata-rata di bumi meningkat. Peristiwa tersebut terjadi secara berulang dan terus menerus yang sering disebut dengan pemanasan global.  Meningkatnya gas-gas rumah kaca seperti gas CO2 menyebabkan radiasi yang diserap dan terperangkap di atmosfir bumi semakin besar, suhu panas di bumi semakin meningkat, inilah yang dinamakan dengan efek gas rumah kaca atau efek global warming. Fenomena ini dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti pertambahan populasi penduduk, aktivitas manusia, serta pertumbuhan teknologi dan industri. Berikut beberapa aktivitas manusia yang dapat menyebabkan bertambahnya pemanasan global.
  a. Penggunaan energi bahan bakar fosil
Bahan-bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas bumi yang digunakan untuk kepentingan industri, pabrik, maupun kendaraan menghasilkan gas CO2 yang merupakan gas rumah kaca yang nantinya akan menumpuk dilapisan atmosfer bumi. Menumpuknya gas CO2 secara berlebih di atmosfer menyebabkan emisi radiasi matahari semakin meningkat.
b. Kerusakan hutan
Kerusakan hutan akibat kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, dan pemanfaatan lahan yang membabi buta serta penebangan pohon yang secara besar-besaran menyebabkan penyerapan gas CO2 yang dilakukan oleh tumbuhan tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.
  c. Penumpukan sampah
Meningkatnya populasi manusia menyebabkan semakin banyak penumpukan sampah di bumi. Menumpuknya sampah-sampah tersebut dapat menghasilkan emisi gas metana dalam jumlah besar sehingga berpotensial dalam mempercepat terjadinya pemanasan global.
 d. Penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca
Penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan emisi gas CO2 antara lain yaitu penggunaan AC, kulkas, dan alat-alat aerosol.
Adanya pemanasan global ini, tentu saja berdampak pada kehidupan umat manusia di muka bumi. Dampak pemanasan global tersebut antara lain :
1)      Meningkatnya suhu atau temperatur global di bumi. Naiknya suhu di bumi menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan permukaan air laut.
2)      Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan. Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta musim kemarau yang panjang.  


                                         Pranata Mangsa

Dari jaman dahulu kala, nenek moyang sudah mengenal dengan peredaran bintang-bintang di langit yang melandasi pengetahuan tentang perulangan musim. Pranata mangsa merupakan sistem penanggalan pertanian yang didasarkan pada tahun tata surya yang lamanya 365 hari. Sistem ini, mengatur tata kerja kaum tani dalam mengikuti peredaran musim dari tahun ke tahun. Dalam pranata mangsa terdapat 12 mangsa dalam setahun yaitu mangsa kasa (I), karo (II), katelu (III), kapat IV), kalima (V), kanem (VI), kapitu (VII), kawolu (VIII), ksangsa (IX), kasapuluh (X), desta (XI), saddha (XII). Munculnya rasi bintang tertentu, disusul oleh munculnya rasi bintang tertentu lainnya digunakan sebagai penentu saat mulai serta saat berakhirnya masing-masing mangsa. Disamping itu, panjang bayangan manusia pada tengah hari juga dipakai untuk menentukan panjang pendeknya suatu mangsa tertentu. Dalam pembagian mangsa-mangsa, petani juga memperhatikan asal-usul angin serta gerakan-gerakan angin.
· Efek pemanasan global terhadap budaya pranata mangsa
Adanya pemanasan global, akan berdampak pada budaya pranata mangsa yang dapat mempengaruhi kehidupan para petani. Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Hal tersebut berdampak pada pola pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Peristiwa ini, dapat melenyapkan sistem yang menjadi tuntunan para petani. Pemanasan global dapat merusak tatanan dan sistem alam yang sampai sekarang diketahui dan dihidupi petani. Akibatnya petani juga tak dapat lagi berpedoman pada gejala-gejala alam yang telah demikian lama menjadi tuntunan bagi hidup sosial dan ekonomi mereka.
2.  Pengaruh musim terhadap keberadaan ikan di laut (pranata mina).
Kemunculan ikan-ikan di laut dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya musim. Musim tersebut akan mempengaruhi arah angin dan ombak yang ada di lautan. Biasanya, nelayan pergi melaut pada musim dimana kondisi alam cukup bersahabat misalnya tiupan angin yang tidak begitu kencang dan ombak yang tenang dan pada saat tersebut terdapat banyak jenis ikan yang ada. Adanya perubahan musim ini, tentu berdampak pada perubahan suhu musiman pada suatu perairan. selain disebabkan oleh pengaruh pemanasan bumi dari penyinaran matahari, perubahan suhu disebabkan pula oleh arus permukaan, keadaan liputan awan, pertukaran massa air secara horizontal, vertikal maupun karena peristiwa upwelling. Setiap jenis ikan bertoleransi dengan suhu air laut berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya kisaran suhu optimum untuk Yellowfin tuna  masing-masing 200C – 280C, dan cakalang dengan batas kedalaman renang 50 m masing-masing 280C – 290C .
Selain berdampak pada perubahan suhu, adanya perubahan musim juga mengakibatkan perubahan arus di samudra. Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, Lavastu dan Hayes (1981) menyatakan hubungan arus terhadap penyebaran ikan adalah arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan petagis dan daerah pemijahan ke daerah pembesaran dan ke tempat mencari makan. Migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami; tingkah laku ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut, arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokan makanan. Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Dari peritiwa ini, memungkinkan adanya pemetaan musim ikan menurut perubahan musim yang ada.