Pages

Featured Posts

Jumat, 27 Maret 2015

LAPORAN PRAKTIKUM GO-5 CEPAT RAMBAT BUNYI

LAPORAN PRAKTIKUM GO-5
CEPAT RAMBAT BUNYI


KELOMPOK 5
Faristya Putri AZ                    (12030654059)
Ma’murotus Sa’idah               (12030654209)
Dzaina Dzuun Ni’mah            (12030654210)
Dewi Puspita Sari                    (12030654220)
Pendidikan IPA 2012 B

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015



ABSTRAK
CEPAT RAMBAT BUNYI

Kami telah melakukan percobaan Cepat Rambat Bunyi pada hari Selasa, 17 Maret 2015 di Laboratorium Pendidikan IPA Unesa. Tujuan dari percobaan ini yaitu menentukan cepat rambat bunyi di udara dengan menggunakan frekuensi resonansi bunyi pada pipa terbuka dan tertutup. Metode yang kami gunakan yaitu mengukur panjang dan diameter setiap pipa,  menghubungkan handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator dengan speaker, meletakkan speaker pada salah satu ujung pipa, kemudian meletakkan ujung pipa lainnya didekat telinga, serta mengatur frekuensi aplikasi Pro Audio Tone Generator sampai terjadi resonansi (f), kemudian mentukan panjang gelombang (λ), sehingga diperoleh cepat rambat bunyi di udara (v). Variabel yang dimanipulasi yaitu jenis pipa, variabel respon yaitu cepat rambat bunyi di udara, serta variabel kontrol yaitu speaker, handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator. Berdasarkan percobaan dengan menggunakan jenis dan ukuran pipa yang berbeda didapatkan frekuensi resonansi bunyi yang berbeda serta cepat rambat bunyi di udara yang berbeda pula. Dengan rumus v = λ . f,  percobaan pada pipa tertutup dengan panjang pipa 29 cm dan diameter 4,23 cm dihasilkan cepat rambat bunyi rata-rata 334,89 m/s, dengan taraf ketelitian 99,99 %. Pada pipa tertutup dengan panjang pipa 24 cm dan diameter 3,17 cm didapatkan cepat rambat bunyi di udara rata-rata 322,08 m/s dan taraf ketelitian 99,98 %. Pada pipa terbuka dengan panjang pipa 100 cm dan diameter 5 cm didapatkan cepat rambat bunyi rata-rata 338,53 m/s dan taraf ketelitian 99,99 % dan. Pada pipa terbuka lain dengan panjang pipa 50 cm dan diameter 3,22 cm didapatkan cepat rambat bunyi di udara rata-rata  335,20 m/s, dengan taraf ketelitian 99,99 % jadi hasil percobaan tersebut dapat dikatakan valid. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa frekuensi yang dihasilkan dari resonansi pipa tertutup lebih besar daripada pipa terbuka, tetapi cepat rambat bunyi pada pipa tertutup lebih keci daripada pipa terbuka, cepat rambat bunyi diudara dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu udara, maka semakin cepat perambatan bunyinya dan juga dipengaruhi diameter pipa, semakin besar diameter pipa maka cepat rambat bunyi di udara juga semakin besar.

Kata Kunci: Cepat rambat bunyi di udara,  frekuensi, panjang gelombang, pipa (terbuka dan tertutup)






BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Bunyi dihubungkan dengan indera pendengaran kita yaitu telinga. Istilah bunyi (sound) juga merujuk pada sensasi fisik yang merangsang telinga kita yaitu, gelombang longitudinal (Giancoli, 2001).  Syarat terjadinya bunyi ada tiga, yang pertama harus ada sumber bunyi dan seperti halnya dengan semua gelombang, sumber bunyi merupakan benda yang bergetar. Kedua, energi dipindahkan dari sumber dalam bentuk gelombang bunyi longitudinal melalui medium, dan ketiga bunyi dideteksi oleh telinga atau alat yang menerima. Jadi, bunyi merupakan gelombang longitudinal yang memerlukan medium dalam perambatannya.
Salah satu medium untuk perambatan bunyi adalah udara. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengarkan bunyi misalnya saat kita berbicara atau mendengar dari benda apapun yang dapat menghasilkan bunyi. Salah satu sumber bunyi yaitu alat-alat musik seperti pipa organa. Jika pipa organa ditiup, maka udara-udara dalam pipa akan bergetar sehingga menghasilkan bunyi. Kolom udara dapat  beresonansi, artinya dapat bergetar.
Ada dua jenis pipa organa, yaitu pipa organa terbuka dan tertutup. Pipa organa terbuka berarti kedua ujungnya terbuka dan pipa organa tertutup berarti salah satu ujungnya tertutup dan ujung lain terbuka (Anonim, 2015). Saat merambat, bunyi mempunyai cepat rambat bunyi. Cepat rambat bunyi berbeda-beda berdasarkan mediumnya. Untuk itu dilakukan percobaan ini untuk menentukan cepat rambat bunyi di udara melalui pipa tertutup dan terbuka.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:” Bagaimana pengaruh resonansi bunyi pada pipa tertutup dan terbuka terhadap cepat rambat bunyi udara yang dihasilkan?”.


C.  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu: “Menentukan cepat rambat bunyi di udara dengan menggunakan resonansi bunyi pada pipa tertutup dan terbuka”.

D.  Hipotesis
Frekuensi yang dihasilkan dari resonansi pipa tertutup lebih besar daripada pipa terbuka, tetapi cepat rambat bunyi yang dihasilkan lebih kecil.





BAB II
DASAR TEORI


A.  Gelombang
Gelombang merupakan suatu getaran (gangguan) yang merambat. Sedangkan getaran itu sendiri merupakan gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu. Gelombang berbeda dengan materi. Selama perambatannya (selama menjalar), gelombang hanya memindahkan energi, sementara materi selama berpindah selalu memindahkan massa dan energinya.
Berdasarkan medium rambatnya, gelombang terbagi atas gelombang mekanis dan gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik merupakan gelombang yang dapat merambat baik melalui medum maupun tanpa medium. Sedangkan gelombang mekanis ialah gelombang yang hanya dapat merambat melalui medium. Gelombang mekanis biasanya merambat melalui media elastis, seperti gas, zat padat, ataupun zat cair. Media elastis ialah suatu medium yang dapat mengalami deformasi.
Sedangkan berdasarkan arah getar dan arah rambatnya gelombang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu gelombang transversal dan longitudinal. Gelombang tranversal merupakan gelombang yang arah getarnya tegak lurus terhadap arah rambatnya. Satu gelombang terdiri dari satu bukit dan satu lembah. Sedangkan gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarnya searah dengan rambatannya. Contoh gelombang mekanik dan gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi.

B.  Bunyi
Bunyi adalah peristiwa yang ditimbulkan oleh getaran benda yang merambat melalui medium dengan kecepatan tertentu. Gelombang bunyi terdiri dari molekul-molekul udara yang bergetar merambat ke segala arah. Tiap saat, molekul-molekul itu berdesakan di beberapa tempat, sehingga menghasilkan wilayah tekanan tinggi, tapi di tempat lain meregang, sehingga menghasilkan wilayah tekanan rendah. Gelombang bertekanan tinggi dan rendah secara bergantian bergerak di udara, menyebar dari sumber bunyi. Gelombang bunyi ini menghantarkan bunyi ke telinga manusia. Bunyi/ suara dapat terdengar karena adanya getaran yang menjalar ke telinga pendengar. Getaran yang menjalar ini menyebabkan perubahan tekanan pada selaput pendengaran manusia akibat dari penjalaran gelombang mekanik. Saat sampai di selaput gendang telinga, getaran ini diubah menjadi denyut listrik yang akan dilaporkan ke otak melalui urat syaraf pendengaran.
Terdapat 3 aspek terjadinya bunyi, yaitu adanya sumber bunyi, medium yang merambatkan bunyi dan adanya penerima yang berada di alam jangkauan sumber bunyi (Hardiwiyono, 2012).
1.     Sumber Bunyi
Sumber bunyi merupakan benda-benda yang bergetar dan menghasilkan suara merambat melalui medium atau zat perantara hingga dapat terdengar. Sumber bunyi berhubungan erat dengan frekuensi bunyi. Frekuensi bunyi adalah banyaknya gelombang bunyi setiap detik. Semakin besar frekuensi gelombang bunyi, berarti, semakin banyak pula pola rapatan dan renggangan sehingga bunyinya akan terdengar semakin nyaring (nadanya lebih tinggi). Berdasarkan frekuensinya, bunyi dapat digolongkan menjadi tiga :
a.    Infrasonik    : bunyi yang frekuensinya di bawah 20 Hz
b.    Audiosonik  : bunyi yang frekuensinya antara 20-20.000 Hz
c.    Ultrasonik    : bunyi yang frekuensinya di atas 20.000 Hz
2.    Pendengar
Pendengar merupakan objek yang dikenai oleh gelombang suara (gelombang bunyi). Suara yang di hasilkan elemen tersebut bergetar ke depan dan merenggangkan udara sewaktu bergerak ke belakang. Udara kemudian mentransmisikan gangguan-gangguan yang ke luar dari sumber tersebut sebagai gelombang. Sewaktu memasuki telinga, gelombang-gelombang ini menimbulkan sensasi bunyi.
3.    Medium Perambatan Bunyi
Gelombang-gelombang bunyi, jika tidak dirintangi, akan menyebar di dalam semua arah dari sebuah sumber (gelombang bunyi bersifat tiga dimensi), tapi agar lebih sederhana akan dibahas penjalaran dalam satu dimensi saja. Cepat rambat bunyi berbeda-beda untuk setiap material, yang menjadi medium perambatan gelombang. Di udara yang bersuhu 0oC dan bertekanan 1 atm, bunyi merambat dengan kecepatan 331 m/s.
Tabel 2.1 Laju bunyi diberbagai materi, pada suhu 20 oC dan tekanan 1 atm.
Materi
Laju (m/s)
Udara 0oC
331
Udara
340
Hielium
1005
Hidrogen
1300
Air
1440
Air Laut
1560
Besi dan Baja
5000
Kaca
4500
Alumunium
5100
Kayu Keras
4000
(Giancoli, 2001:408)
C.  Cepat Rambat Gelombang Bunyi di Udara
Bunyi mempunyai cepat rambat yang terbatas. Bunyi memerlukan waktu untuk berpindah. Cepat rambat bunyi sebenarnya tidak terlampau besar. Cepat rambat bunyi jauh lebih kecil dibadingkan dengan cepat rambat cahaya. Karena bunyi termasuk gelombang, cepat rambat bunyi juga memenuhi persamaan cepat rambat gelombang. Cepat rambat gelombang bunyi berkaitan dengan jarak dan waktu, dimana cepat rambat bunyi didefinisikan sebagai jarak sumber bunyi ke pendengar dibagi dengan selang waktu yang dibutuhkan bunyi untuk sampai ke pendengar, yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

Cepat rambat bunyi di udara dipengaruhi oleh kondisi udara, terutama suhu dan tekanan udara. Besarnya cepat rambat bunyi di udara yang dipengaruhi oleh suhu dinyatakan dengan persamaan ;
v = 331 + 0,6.T  (rumus Miller).
Dalam medium udara, bunyi mempunyai sifat khusus, antara lain :
a.    Cepat rambat bunyi tidak tergatung pada tekanan udara, artinya jika terjadi perubahan tekanan udara, sepat rambat bunyi tidak akan berubah.
b.    Cepat rambat bunyi bergantung pada suhu. Makin tinggi suhu udara, makin besar cepat rambat bunyi (Afriza, 2011).

D.  Resonansi Bunyi Pada Pipa Organa
Salah satu sifat bunyi adalah dapat bersonansi. Resonansi adalah ikut bergetarnya molekul udara dalam kolom udara akibat getaran benda, dalam beberapa alat musik akan menimbulkan efek bunyi yang merdu. Peristiwa resonansi dapat terjadi pada pipa organa. Jika sumber bunyi gitar adalah getaran senarnya, maka sumber bunyi pipa organa adalah kolom udara.
Pipa organa adalah sebuah elemen penghasil suara. Pipa tersebut akan beresonansi (mengeluarkan suara) pada nada tertentu ketika ada aliran udara yang ditiupkan pada tekanan tertentu. Pipa organa dibedakan menjadi dua yaitu : (1) pipa organa terbuka dan (2) pipa organa tertutup.
1.    Pipa Organa Terbuka
Pipa organa terbuka adalah sebuah kolom udara yang kedua ujung penampangnya terbuka. Jika pipa organa ditiup, maka udara-udara dalam pipa akan bergetar sehingga menghasilkan bunyi. Gelombang yang terjadi merupakan gelombang longitudinal. Kolom udara dapat  beresonansi, artinya dapat bergetar.










Gambar 2.1 Pipa organa terbuka dan persamaan
Sumber : perpustakaancyber.blogspot.com

 


2.    Pipa Organa Tertutup
Pipa organa tetutup adalah sebuah kolom udara yang salah satu ujungnya tertutup dan ujung yang lain terbuka. Pada ujung pipa tertutup, udara tidak bebas bergerak, sehingga pada ujung pipa selalu terjadi simpul. Gambar pipa organa tertutup beserta persamaan :

Gambar 2.2 Pipa Organa tertutup dan persamaan
Sumber : carafisika.blogspot.com



BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Alat dan Bahan
1.    Handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator          1 buah
2.    Speaker                                                                                      1 buah
3.    Pipa terbuka (kecil dan besar)                                                   2 buah
4.    Pipa terutup (Gelas ukur besar dan kecil)                                  2 buah

B.  Rancangan Percobaan
 

 



Gambar 3.1 Rancangan Percobaan Ceapat Rambat Bunyi di Udara

C.  Variabel Percobaan dan Definisi Operasional Variabel
1.    Variabel Percobaan
a.    Variabel Manipulasi  : Jenis dan ukuran pipa (tertutup dan terbuka).
b.    Variabel Respon       : Cepat rambat bunyi di udara
c.    Variabel Kontrol       : Speaker, Handphone dengan aplikasi Pro Audio
                                    Tone Generator        
2.    Definisi operasional variabel:
a.    Pipa organa merupakan semua pipa yang dalamnya berongga, Pipa organa ada dua jenis yaitu pipa organa terbuka berarti kedua ujungnya terbuka dan pipa organa tertutup berarti salah satu ujungnya tertutup dan ujung lain terbuka (Anonim, 2015).
b.    Cepat rambat bunyi diudara adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang bunyi setiap satu satuan waktu pada medium udara (Anonim, 2014).
c.    Speaker adalah perangkat keras yang berfungsi mengeluarkan suara.
d.   Handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator merupakan sumber bunyi yang yang dapat diubah frekuensinya.

D.  Langkah Percobaan
1.    Memasang aplikasi Pro Audio Tone Generator pada handphone sebagai sumber bunyi
2.    Menghubungkan handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator dengan speaker
3.    Meletakkan speaker pada salah satu ujung pipa (terbuka dan tertutup).
4.    Meletakkan ujung pipa lainnya didekat telinga
5.    Mengatur frekuensi pada aplikasi Pro Audio Tone Generator sampai terjadi resonansi.
6.    Mengukur diameter dan panjang pipa (terbuka dan tertutup)
7.    Mentukan panjang gelombang bunyi.
8.    Menentukan cepat rambat gelombang bunyi di udara.
9.    Mengulang poin 1-8 sebanyak 3x percobaan pada pipa terbuka dan tertutup

E.  Alur Percobaan
HP dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator
-  Dihubungkan dengan speaker yang diletakkan didekat salah satu ujung pipa (terbuka atau tertutup)
-  Diatur frekuensinya
-  Didengarkan

Resonansi
-  denentukan frekuensinya
-  ditenentukan cepat rambat bunyi diudara setelah panjang pipa diukur dan diketahui panjang gelombangnya.
Cepat Rambat Bunyi di Udara
 












BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A.  Data
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Cepat Rambat Bunyi di Udara
No
Jenis Pipa
(f resonansi ± 0,1) Hz
(L± 0,1) cm
λ (m)
V (m/s)
1
Pipa tertutup (besar)
287,1
29,0
1,16
333,04
287,8
29,0
1,16
333,85
291,2
29,0
1,16
337,79
2
Pipa tertutup (kecil)
334,9
24,0
0,96
321,50
330,3
24,0
0,96
317,09
341,3
24,0
0,96
327,65
3
Pipa Terbuka
(besar)
169,0
100,0
2,00
338,00
169,5
100,0
2,00
339,00
169,3
100,0
2,00
338,60
4
Pipa Terbuka
(kecil)
334,0
50,0
1,00
334,00
336,0
50,0
1,00
336,00
335,6
50,0
1,00
335,60

Diameter pipa tertutup (besar) = 4,23 cm 
Diameter pipa tertutup (kecil) = 3,17 cm
Diameter pipa terbuka (besar)= 5 cm
Diameter pipa terbuka (besar)= 3,22 cm
B.  Analisis
Pada percobaan cepat rambat bunyi di udara ini dilakukan dengan menggunakan 2 jenis pipa yang berbeda yaitu terbuka dan tertutup yang masing-masing dilakukan sebanyak 3 kali dengan memanipulasi ukuran masing-masing pipa dalam setiap percobaan. Berdasarkan percobaan dengan menggunakan pipa tertutup (besar), pada percobaan pertama dengan panjang pipa 29,0 cm dihasilkan panjang gelombang 1,16 m dengan frekuensi resonansi 287,1 Hz sehingga dari perhitungan  dengan rumus v = λ . f diperoleh cepat rambat bunyi sebesar 333,04 m/s. Percobaan kedua diperoleh frekuensi resonansi 287,8 Hz, dengan panjang pipa dan panjang gelombang yang sama yakni 29,0 cm dan 1,16 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 333,85 m/s. Percobaan ketiga diperoleh frekuensi resonansi 291,2 Hz, dengan panjang pipa dan panjang gelombang yang sama yakni 29,0 cm dan 1,16 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 337,79 m/s.
Pada percobaan dengan menggunakan pipa tertutup (kecil) dilakukan 3 kali percobaan dengan panjang pipa yang sama yaitu 24,0 cm, sehingga dihasilkan panjang gelombang yang sama juga yaitu 0,96 m. Pada percobaan pertama diperoleh frekuensi resonansi 334,9 Hz sehingga dari perhitungan  dengan rumus diperoleh cepat rambat bunyi sebesar 321,50 m/s. Percobaan kedua dengan frekuensi resonansi 330,3 Hz, panjang pipa dan panjang gelombang yang sama sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 317,09 m/s. Percobaan ketiga dengan frekuensi resonansi 341,3 Hz, denan panjang pipa dan panjang gelombang yang sama dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 327,65 m/s.
Pada percobaan menggunakan pipa terbuka (besar), pada percobaan pertama dengan panjang pipa 100,0 cm dihasilkan panjang gelombang 2,00 m dengan frekuensi resonansi 169,0 Hz, sehingga dari perhitungan  dengan rumus diperoleh cepat rambat bunyi sebesar 338,00 m/s. Percobaan kedua dengan frekuensi resonansi 169,5 Hz, panjang pipa dan panjang gelombang yang sama yakni 100,0 cm dan 2,00 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 339,00 m/s. Percobaan ketiga dengan frekuensi resonansi 169,3 Hz, panjang benda dan panjang gelombang yang sama yakni 100,0 cm dan 2,00 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 338,60 m/s.
Sedangkan untuk percobaan menggunakan pipa terbuka (kecil) dengan frekuensi resonansi 334,0 Hz pada percobaan pertama dengan panjang benda 50,0 cm dihasilkan panjang gelombang 1,00 m sehingga dari perhitungan  dengan rumus diperoleh cepat rambat bunyi sebesar 334,00 m/s. Percobaan kedua dengan frekuensi resonansi 336,0 Hz, panjang benda dan panjang gelombang yang sama yakni 50,0 cm dan 1,00 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 336,00 m/s. Percobaan ketiga dengan frekuensi resonansi 169,3 Hz, panjang benda dan panjang gelombang yang sama yakni 50,0 cm dan 1,00 m sehingga dengan perhitungan rumus yang sama didapatkan cepat rambat bunyi sebesar 335,60 m/s.
C.    Diskusi
Berdasarkan hasil percobaan cepat rambat bunyi di udara dengan menggunakan 2 jenis pipa yaitu pipa tertutup dan pipa terbuka didapatkan hasil perhitungan cepat rambat bunyi yang berbeda-beda dengan menggunakan rumus v = λ . f. Pada pipa tertutup dengan panjang pipa 29 cm dan diameter 4,23 cm didapatkan hasil cepat rambat bunyi di udara berturut turut sebesar 333,04 m/s, 333,85 m/s, dan 337,79 m/s dengan cepat rambat bunyi rata-rata sebesar 334,89 m/s, dengan taraf ketelitian sebesar 99,99 % dan ketidakpastian sebesar 0,0059 %. Pada pipa tertutup yang lain dengan panjang pipa 24 cm dan diameter 3,17 cm didapatkan hasil cepat rambat bunyi di udara berturut-turut sebesar 321,50 m/s, 317,09 m/s, dan 327,65 m/s dengan rata-rata sebesar 322,08 m/s, taraf ketelitian sebesar 99,98 % dan ketidakpastian sebesar 0,0134 %. Pada pipa terbuka dengan panjang pipa 100 cm dan diameter 5 cm didapatkan hasil cepat rambat bunyi di udara berturut-turut adalah 338,00 m/s, 339,00 m/s, dan 338,60 m/s dengan rata-rata sebesar 338,53 m/s, taraf ketelitian sebesar 99,99 % dan ketidakpastian sebesar 0,0012 %. Pada pipa terbuka yang lain dengan panjang pipa 50 cm dan diameter 3,22 cm didapatkan cepat rambat bunyi di udara berturut turut sebesar 334,00 m/s, 336,00 m/s, dan 335,60 m/s dengan rata-rata sebesar 335,20 m/s, taraf ketelitian sebesar 99,99 % dan ketidakpastian sebesar 0,0031 %,  jadi hasil percobaan tersebut dapat dikatakan valid.
Cepat rambat bunyi berbeda-beda untuk setiap material, yang menjadi medium perambatan gelombang. Pada gas, cepat rambat bunyi sangat bergantung pada temperature. Di udara yang bersuhu 0oC dan bertekanan 1 atm, bunyi merambat dengan cepat rambat bunyi 331 m/s (Giancoli, 2012). Berdasarkan teori, cepat rambat bunyi di udara meningkat sebesar 0,60 m/detik untuk setiap 0C kenaikan suhu. v  =  331 + 0,60 T m/detik (Rumus Miller).  Jadi, cepat rambat bunyi di udara dengan suhu 26oC yaitu,                   v = 3310+0,6 (26) = 331 + 15,6 = 346,6 m/s.
Berdasarkan data hasil percobaan dengan suhu ruang 26oC diperoleh cepat rambat bunyi rata-rata di udara sebesar 334,89 m/s untuk pipa tertutup dengan panjang pipa 29 cm, 322,08 m/s untuk pipa tertutup dengan panjang pipa sebesar 24 cm, 338,53 m/s untuk pipa terbuka dengan panjang pipa sebesar 100 cm, dan 335,20 m/s untuk pipa terbuka dengan panjang pipa 50 cm. Berdasarkan teori menyatakan bahwa cepat rambat bunyi diudara dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu udara, maka semakin cepat perambatan bunyinya. Hal tersebut terjadi karena semakin tinggi suhu, maka semakin cepat getaran partikel-partikel dalam medium tersebut. Akibatnya, proses perpindahan getaran makin cepat (Afriza, 2012). Data yang diperoleh sedikit kurang sesuai dengan teori, seharusnya cepat rambat bunyi bunyi di udara pada suhu 260C sebesar 346,6 m/s namun hasil yang diperoleh sedikit dibawahnya. Hal tersebut disebabkan karena kurang fokus dan kurang telitinya praktikan dalam mendengarkan resonansi pada pipa yang dikeluarkan Handphone dengan aplikasi Pro Audio Tone Generator sehingga frekuensi yang dihasilkan kurang valid dan mempengaruhi cepat rambat bunyi yang dihasilkan.
Pada panjang tabung tertentu dapat terjadi resonansi gelombang suara yang ditandai dengan adanya suara yang menggaung agak keras. Peristiwa resonansi terjadi sesuai dengan getaran pada pipa organa. Pada pipa tertutup, resonansi pertama akan terjadi jika panjang kolom udara adalah ¼ λ,  sedangkan pada pipa terbuka adalah ½ λ. Berdasarkan teori, selain panjang gelombang, cepat rambat bunyi pada pipa tertutup maupun terbuka dipengaruhi diameter pipa.  Posisi simpul terbuka dekat unjung tabung yang terbuka bergantung pada diameter tabung (Giancoli, 2001:420). Semakin besar diameter pipa, maka cepat rambat bunyi di udara juga semakin besar. Data hasil percobaan, cepat rambat bunyi rata-rata di udara sebesar 334,89 m/s untuk pipa tertutup dengan diamter 4,23 cm, 322,08 m/s untuk pipa tertutup dengan diameter 3,17 cm, 338,53 m/s untuk pipa terbuka dengan diameter pipa sebesar 5 cm, dan 335,20 m/s untuk pipa terbuka dengan diameter pipa 3,22 cm. Hasil tersebut sudah sesuai dengan teori karena pada pipa tertutup besar dengan diameter lebih besar cepat rambat bunyinya lebih besar daripada pipa tertutup kecil, sedangkan pada pipa tebuka yang diameternya lebih besar cepat rambatnya lebih besar daripada pipa terbuka yang diameternya lebih kecil. Untuk pipa tertutup frekuensinya lebih besar daripada pipa terbuka tetapi cepat rambatnya lebih kecil. Hal tersebut terjadi karena selalu ada simpangan simpul tertutup di ujung tertutup (karena udara tidak bebas untuk bergerak) dan simpul terbuka di ujung terbuka (di mana udara dapat bergerak bebas) (Giancoli, 2001:420). Sehingga cepat rambat bunyi pada pipa tertutup lebih kecil daripada pipa terbuka,  jadi hipotesis terbukti.







BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulann
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Frekuensi yang dihasilkan dari resonansi pipa tertutup lebih besar daripada pipa terbuka, tetapi cepat rambat bunyi pada pipa tertutup lebih keci daripada pipa terbuka.
2.    Dari masing-masing percobaan pipa tertutup dan pipa terbuka didapatkan cepat rambat bunyi rata-rata, taraf ketelitian serta ketidakpastian yang berbeda-beda.
3.    Cepat rambat bunyi diudara dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu udara, maka semakin cepat perambatan bunyinya.
4.    Semakin besar diameter pipa, maka cepat rambat bunyi di udara juga semakin besar
B.  Saran
        Sebaiknya mahasiswa (praktikan) lebih fokus dan teliti dalam melakukan percobaan sehingga data yang diperoleh valid dan sesuai dengan teori. Selain itu, sebaiknya sebelum melakukan percobaan praktikan perlu membaca literature yang berkaitan dengan materi percobaan agar dalam melakukan percobaan dapat berjalan dengan lancar.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2014.Cepat Rambat Bunyi.(Online).(http://www.informasi-pendidikan.com/2014/12/cepat-rambat-bunyi.html, diakses 19 Maret 2015)
Anonim.2015.Pipa Organa.(Online) .(http://fisikon.com/kelas3/index.php?option=com_content&view=article&id=88&Itemid=139, diakses 19 Maret 2015).
Afriza,Zafira.2012. Perambatan gelombang Bunyi. (online). (http://zafiraafriza.blogspot.com/2012/10/perambatan-gelombang-bunyi.html diakses 21 Maret 2015
).
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Hadiwiryono, Nuraiman.2012.Bunyi. (Online), (http://nuriman76.blogspot.com/?view=flipcard), diakses 23 Maret 2015.


 

sample teks

dhjghkjlkl

Sample text

Sample Text