Selasa, 09 September 2014

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA



USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGARUH JUMLAH RAGI TEMPE TERHADAP KUALITAS PEMBUATAN TEMPE DARI ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.
BIDANG KEGIATAN:
PKM-ARTIKEL ILMIAH

Diusulkan oleh:
A.H. Bahroini Ilma     (123654233/2012)
Ma’murotus Saidah     (123654209/2012)
Nur Jannatin    (133

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2014




Formulir Penilaian Usulan PKM-AI
Judul Kegiatan
:
Pengaruh Jumlah Ragi Tempe Terhadap Kualitas Pembuatan Tempe Dari Artocarpus Heterophyllus Lamk.
Bidang Kegiatan
:
PKM-AI
Bidang Ilmu
:
Sains
Penulis Utama
:
A.H.Bahroini Ilma
NIM
:
123654233
Jumlah Anggota
:
2 orang
Anggota 1
:
Ma’murotus Saidah
Anggota 2
:
Nur Jannatin
Dosen Pembimbing
:

Perguruan Tinggi
:
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas/Progam Studi
:
FMIPA/Pendidikan Sains
No
KRITERIA
Bobot
(%)
Skor
NILAI
(Bobot x Skor)
1
JUDUL
Kesesuaian isi dan judul artikel
5


2
ABSTRAK
Latar belakang, Tujuan, Metode, Hasil, Kesimpulan, Kata Kunci
10


3
PENDAHULUAN
Persoalan yang mendasari pelaksanaan
Uraian dasar-dasar keilmuan yang mendukung
Kemutakhiran substansi pekerjaan
10


4
TUJUAN
Menemukan teknik/konsep/metode sebagai jawaban atas persoalan
5


5
METODE
Kesesuaian dengan persoalan yang akan diselesaikan, Pengembangan metode baru, Pengaruh metode yang sudah ada
25


6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kumpulan dan kejelasan penampilan data, Proses/teknik pengolahan data, Ketajaman analisis dan sintesis data, Perbandingan hasil dengan hipotesis atau hasil sejenis sebelumnya
30


7
KESIMPULAN
Tingkat ketercapaian hasil dengan tujuan
10


8
DAFTAR PUSTAKA
Ditulis sesuai dengan peraturan medel Harvard atau Vancouver, Sesuai dengan uraian sitasi, Kemutakhiran pustaka
5


TOTAL
100



PENGARUH JUMLAH RAGI TEMPE TERHADAP KUALITAS PEMBUATAN TEMPE DARI ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.

ABSTRAK
            Tempe merupakan jenis makanan hasil proses fermentasi  yang sangat digemari, karena memiliki cita rasa yang khas dan relatif murah harganya. Di samping itu tempe sudah dikenal oleh masyarakat indonesia sebagai makanan bergizi tinggi.  Proses fermentasi tempe juga telah diterapkan dalam pengolahan berbagai jenis kacang-kacangan menjadi produk makanan yang sangat digemari, termasuk oncom yang dibuat dari bungkil kacang tanah. Kapang dari jenis rhizopus merupakan organisme terpenting dalam fermentasi tempe. Sejumlah spesies yang sering ditemukan dalam tempe ialah R.oryzae, R. oligosporus, R. stolonifer, R. arrhizus. Di antara spesies tersebut  R. oryzae dan R. oligosporus memegang peran utama dalam fermentasi tempe. Pembuatan tempe secara sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan ragi tempe yang mudah dijumpai di toko-toko sekitar kita. Beberapa jenis ragi/kapang yang digunakan yaitu R.oryzae, R. oligosporus, R. stolonifer, R. arrhizus akan mempengaruhi sifat organoleptik tempe yang dihasilkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk.. Rancangan percobaan yaitu dengan merendam biji artocarpus heterophyllus lamk  selama 1 hari, mencuci sampai bersih, memasak hingga keluar buih dimana merupakan tanda bahwa biji sudah empuk , mendinginkan, menguliti, menotong nenjadi ukuran yang kecil-kecil, dan member ragi serta membungkusnya. Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk dengan mengamati hasil akhir dari tempe tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ragi tempe mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan.
Kata kunci       : tempe, ragi tempe, Organoleptik , artocarpus heterophyllus lamk
ABSTRACT
            Tempe is the result of fermentation of food types that are very popular , because it has a distinctive taste and relatively inexpensive . In addition, tempeh is already known by the people of Indonesia as a highly nutritious food . Tempeh fermentation process has also been applied in the processing of various types of nuts into food products that are very popular , including oncom made ​​from peanut meal . Rhizopus mold of the type of organism is important in tempeh fermentation . A number of species are often found in tempeh is R.oryzae , R. oligosporus , R. stolonifer , R. arrhizus . Among the species R. oryzae and R. oligosporus plays a central role in tempeh fermentation . Making tempeh can simply be done by using tempeh are easily found in stores around us . Several types of yeast / mold used is R.oryzae , R. oligosporus , R. stolonifer , R. arrhizus will affect the organoleptic properties of tempe produced . The purpose of the study was to determine the effect of the amount of tempeh tempeh -making quality of Artocarpus heterophyllus Lamk .. The design of the experiment is to soak the seeds Artocarpus heterophyllus Lamk for 1 day , washed it clean , cook until the froth out which is a sign that the seeds are soft , cool , skinning , menotong nenjadi small size , and a member of the yeast and wrap . The purpose of this experiment to determine the effect of the amount of tempeh tempeh -making quality of Artocarpus heterophyllus Lamk by observing the outcome of the tempeh . The results showed that the amount of influence the quality of soybean tempeh produced .
Kata kunci: tempe, ragi tempe, organoleptik, Artocarpus heterophyllus Lamk
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang kaya akan flora dan fauna. Flora dan fauna tersebut berasal baik dari Indonesia maupun dari negara lain. Hal tersebut dikarenakan Indonesia dilewati jalur perdagangan yang memungkinkan tersebarnya flora dan fauna dari negara lain sampai ke Indonesia. Termasuk salah satunya tumbuhan nangka yang diyakini berasal dari India, yakni wilayah Ghats bagian barat, di mana jenis-jenis liarnya masih didapati tumbuh tersebar di hutan hujan di sana. Pohon nangka termasuk dalam suku-suku Moraceae yang satu famili dengan pohon durian, pohon sirsak, dan pohon sirkaya.
Pada umumnya nangka dibedakan menjadi dua jenis yaitu nangka bubur dan nangka salak. Nangka memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang tinggi pada buahnya yang berbau harum-manis, berdaging, dan kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis. Akan tetapi tidak banyak orang mengetahui bahwa biji nangka atau yang biasa disebut beton juga memiliki nilai ekonomis dan juga kandungan gizi yang berguna bagi tubuh. Sebenarnya beton  memiliki kandungan selain karbohidrat yaitu mengandung energi sebesar 165 kilokalori, protein 4,2 gram, karbohidrat 36,7 gram, lemak 0,1 gram, kalsium 33 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 1 miligram.  Selain itu di dalam beton juga terkandung vitamin A, vitamin B1 sebanyak 0,2 miligram dan vitamin C sebanyak 10 miligram.  Hasil tersebut didapat dari penelitian terhadap 100 gram beton, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 75 %.
Umumnya orang hanya mengetahui bahwa beton diolah dengan cara direbus dan dimakan sebagai sumber karbohidrat tambahan. Dan hal tersebut tidak banyak diminati orang karena rasa dan penampilannya yang kurang menarik. Bahkan di era globalisasi saat ini beton bisa dikatakan hanya dianggap sebagai limbah rumah tangga. Oleh karena itu, penulis berusaha mencari inovasi terbaru dari pengolahan beton yaitu dengan brownies beton ini. Selain mengolah beton menjadi menarik, penulis juga berharap dengan pengolahan ini dapat mengurangi limbah rumah tangga berupa beton. Kandungan karbohidrat yang terdapat pada beton juga bisa menjadi alternatif pilihan dalam pembuatan brownies selain gandum yang pada dasarnya merupakan hasil import. Karena saat ini Indonesia sangat tergantung dengan import dari negara lain. Apalagi dengan jumlah penduduk yang sangat besar, konsumsi Indonesia pun terang bukan urusan yang sepele sehingga menimbulkan permintaan gandum terutama dalam bentuk tepung terigu sangatlah tinggi. Dengan menjadikan beton sebagai bahan pembuatan brownies, penulis juga berharap brownies beton ini dapat memberi inspirasi untuk mengembangkan inovasi dan kreasi terhadap beton sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis beton.
RUMUSAN MASALAH
            Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: bagaimanakah pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk?
TUJUAN
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk
METODE
1.      Variabel    
a.       Variabel bebas             : jumlah ragi tempe
b.      Variabel terikat           : sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, kekentalan)
c.       Variabel kontrol          : masa
2.      Alat dan bahan
a.       Alat
1)      Panci                                                                     1 buah
2)      Kompor                                                                 1 buah
3)      Sendok                                                                  1 buah
4)      Baskom kedap udara                                            1 buah
5)      Gelas ukur                                                             1 buah
6)      Kain tebal                                                              1 buah
b.      Bahan
1)      Susu cair                                                                600 mL
2)      Susu bubuk full cream                                          6 sendok makan
3)      Starter yogurt cair (Yakult)                                   3 sendok makan
4)      Starter yogurt padat (Bio Kul Plain Yogurt)        3 sendok makan
3.      Langkah kerja
a.       Memasukkan 6 sendok makan susu bubuk full cream ke dalam 600 mL susu cair
b.      Memanaskan susu dengan suhu 80o C. Suhu dijaga agar stabil selama 15 menit untuk sterilisasi, sambil terus diaduk agar susu tidak pecah.
c.       Mendinginkan susu dengan cara diangin-anginkan. Menunggu hingga suhu hangat-hangat kuku (tidak sampai benar-benar dingin).
d.      Memasukkan 3 sendok makan yakult pada 300 mL susu dalam baskom pertama, mengaduk pelan-pelan hingga merata.
e.       Memasukkan 3 sendok makan bio kul plain yogurt pada 300 mL susu dalam baskom kedua, mengaduk pelan-pelan. Proses pengadukan yang benar adalah masih ada butir-butir yogurt yang tersisa di dasar baskom.
f.       Menutup rapat  baskom hingga tidak ada udara yang dapat keluar-masuk.
g.      Membungkus baskom dengan kain tebal dan meletakkan baskom di tempat teduh dengan suhu ruang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut:
Sifat Organoleptik
Starter Yogurt Cair
Starter Yogurt Padat
Warna
Putih pucat
Putih agak kekuningan
Rasa
Dominasi masam tajam
Masam agak gurih
Aroma
Berbau masam agak segar
Berbau susu agak busuk
Kekentalan
Kental agak padat
Kental agak padat

            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, sifat organoleptik yang dapat diamati yaitu warna pada yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah putih pucat, sementara yogurt yang menggunakan starter yogurt padat warnanya putih agak kekuningan. Rasa yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah dominasi masam tajam, sementara yogurt yang menggunakan starter yogurt padat rasanya masam namun agak gurih. Aroma yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah berbau masam agak segar, sedangkan yogurt yang menggunakan starter yogurt padat berbau susu agak busuk. Kekentalan yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah kental aga padat, sama seperti kekentalan yogurt yang menggunakan starter yogurt padat.
KESIMPULAN

            Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis starter yogurt yaitu padat dan cair dapat memengaruhi sifat organoleptik yogurt yang dihasilkan yaitu rasa, warna, dan aroma. Namun jenis starter tidak memengaruhi kekentalan yogurt yang dihasilkan. 

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA



USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGARUH JUMLAH RAGI TEMPE TERHADAP KUALITAS PEMBUATAN TEMPE DARI ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.
BIDANG KEGIATAN:
PKM-ARTIKEL ILMIAH

Diusulkan oleh:
A.H. Bahroini Ilma     (123654233/2012)
Ma’murotus Saidah     (123654209/2012)
Nur Jannatin    (133

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2014




Formulir Penilaian Usulan PKM-AI
Judul Kegiatan
:
Pengaruh Jumlah Ragi Tempe Terhadap Kualitas Pembuatan Tempe Dari Artocarpus Heterophyllus Lamk.
Bidang Kegiatan
:
PKM-AI
Bidang Ilmu
:
Sains
Penulis Utama
:
A.H.Bahroini Ilma
NIM
:
123654233
Jumlah Anggota
:
2 orang
Anggota 1
:
Ma’murotus Saidah
Anggota 2
:
Nur Jannatin
Dosen Pembimbing
:

Perguruan Tinggi
:
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas/Progam Studi
:
FMIPA/Pendidikan Sains
No
KRITERIA
Bobot
(%)
Skor
NILAI
(Bobot x Skor)
1
JUDUL
Kesesuaian isi dan judul artikel
5


2
ABSTRAK
Latar belakang, Tujuan, Metode, Hasil, Kesimpulan, Kata Kunci
10


3
PENDAHULUAN
Persoalan yang mendasari pelaksanaan
Uraian dasar-dasar keilmuan yang mendukung
Kemutakhiran substansi pekerjaan
10


4
TUJUAN
Menemukan teknik/konsep/metode sebagai jawaban atas persoalan
5


5
METODE
Kesesuaian dengan persoalan yang akan diselesaikan, Pengembangan metode baru, Pengaruh metode yang sudah ada
25


6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kumpulan dan kejelasan penampilan data, Proses/teknik pengolahan data, Ketajaman analisis dan sintesis data, Perbandingan hasil dengan hipotesis atau hasil sejenis sebelumnya
30


7
KESIMPULAN
Tingkat ketercapaian hasil dengan tujuan
10


8
DAFTAR PUSTAKA
Ditulis sesuai dengan peraturan medel Harvard atau Vancouver, Sesuai dengan uraian sitasi, Kemutakhiran pustaka
5


TOTAL
100



PENGARUH JUMLAH RAGI TEMPE TERHADAP KUALITAS PEMBUATAN TEMPE DARI ARTOCARPUS HETEROPHYLLUS LAMK.

ABSTRAK
            Tempe merupakan jenis makanan hasil proses fermentasi  yang sangat digemari, karena memiliki cita rasa yang khas dan relatif murah harganya. Di samping itu tempe sudah dikenal oleh masyarakat indonesia sebagai makanan bergizi tinggi.  Proses fermentasi tempe juga telah diterapkan dalam pengolahan berbagai jenis kacang-kacangan menjadi produk makanan yang sangat digemari, termasuk oncom yang dibuat dari bungkil kacang tanah. Kapang dari jenis rhizopus merupakan organisme terpenting dalam fermentasi tempe. Sejumlah spesies yang sering ditemukan dalam tempe ialah R.oryzae, R. oligosporus, R. stolonifer, R. arrhizus. Di antara spesies tersebut  R. oryzae dan R. oligosporus memegang peran utama dalam fermentasi tempe. Pembuatan tempe secara sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan ragi tempe yang mudah dijumpai di toko-toko sekitar kita. Beberapa jenis ragi/kapang yang digunakan yaitu R.oryzae, R. oligosporus, R. stolonifer, R. arrhizus akan mempengaruhi sifat organoleptik tempe yang dihasilkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk.. Rancangan percobaan yaitu dengan merendam biji artocarpus heterophyllus lamk  selama 1 hari, mencuci sampai bersih, memasak hingga keluar buih dimana merupakan tanda bahwa biji sudah empuk , mendinginkan, menguliti, menotong nenjadi ukuran yang kecil-kecil, dan member ragi serta membungkusnya. Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk dengan mengamati hasil akhir dari tempe tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ragi tempe mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan.
Kata kunci       : tempe, ragi tempe, Organoleptik , artocarpus heterophyllus lamk
ABSTRACT
            Tempe is the result of fermentation of food types that are very popular , because it has a distinctive taste and relatively inexpensive . In addition, tempeh is already known by the people of Indonesia as a highly nutritious food . Tempeh fermentation process has also been applied in the processing of various types of nuts into food products that are very popular , including oncom made ​​from peanut meal . Rhizopus mold of the type of organism is important in tempeh fermentation . A number of species are often found in tempeh is R.oryzae , R. oligosporus , R. stolonifer , R. arrhizus . Among the species R. oryzae and R. oligosporus plays a central role in tempeh fermentation . Making tempeh can simply be done by using tempeh are easily found in stores around us . Several types of yeast / mold used is R.oryzae , R. oligosporus , R. stolonifer , R. arrhizus will affect the organoleptic properties of tempe produced . The purpose of the study was to determine the effect of the amount of tempeh tempeh -making quality of Artocarpus heterophyllus Lamk .. The design of the experiment is to soak the seeds Artocarpus heterophyllus Lamk for 1 day , washed it clean , cook until the froth out which is a sign that the seeds are soft , cool , skinning , menotong nenjadi small size , and a member of the yeast and wrap . The purpose of this experiment to determine the effect of the amount of tempeh tempeh -making quality of Artocarpus heterophyllus Lamk by observing the outcome of the tempeh . The results showed that the amount of influence the quality of soybean tempeh produced .
Kata kunci: tempe, ragi tempe, organoleptik, Artocarpus heterophyllus Lamk
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang kaya akan flora dan fauna. Flora dan fauna tersebut berasal baik dari Indonesia maupun dari negara lain. Hal tersebut dikarenakan Indonesia dilewati jalur perdagangan yang memungkinkan tersebarnya flora dan fauna dari negara lain sampai ke Indonesia. Termasuk salah satunya tumbuhan nangka yang diyakini berasal dari India, yakni wilayah Ghats bagian barat, di mana jenis-jenis liarnya masih didapati tumbuh tersebar di hutan hujan di sana. Pohon nangka termasuk dalam suku-suku Moraceae yang satu famili dengan pohon durian, pohon sirsak, dan pohon sirkaya.
Pada umumnya nangka dibedakan menjadi dua jenis yaitu nangka bubur dan nangka salak. Nangka memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang tinggi pada buahnya yang berbau harum-manis, berdaging, dan kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis. Akan tetapi tidak banyak orang mengetahui bahwa biji nangka atau yang biasa disebut beton juga memiliki nilai ekonomis dan juga kandungan gizi yang berguna bagi tubuh. Sebenarnya beton  memiliki kandungan selain karbohidrat yaitu mengandung energi sebesar 165 kilokalori, protein 4,2 gram, karbohidrat 36,7 gram, lemak 0,1 gram, kalsium 33 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 1 miligram.  Selain itu di dalam beton juga terkandung vitamin A, vitamin B1 sebanyak 0,2 miligram dan vitamin C sebanyak 10 miligram.  Hasil tersebut didapat dari penelitian terhadap 100 gram beton, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 75 %.
Umumnya orang hanya mengetahui bahwa beton diolah dengan cara direbus dan dimakan sebagai sumber karbohidrat tambahan. Dan hal tersebut tidak banyak diminati orang karena rasa dan penampilannya yang kurang menarik. Bahkan di era globalisasi saat ini beton bisa dikatakan hanya dianggap sebagai limbah rumah tangga. Oleh karena itu, penulis berusaha mencari inovasi terbaru dari pengolahan beton yaitu dengan brownies beton ini. Selain mengolah beton menjadi menarik, penulis juga berharap dengan pengolahan ini dapat mengurangi limbah rumah tangga berupa beton. Kandungan karbohidrat yang terdapat pada beton juga bisa menjadi alternatif pilihan dalam pembuatan brownies selain gandum yang pada dasarnya merupakan hasil import. Karena saat ini Indonesia sangat tergantung dengan import dari negara lain. Apalagi dengan jumlah penduduk yang sangat besar, konsumsi Indonesia pun terang bukan urusan yang sepele sehingga menimbulkan permintaan gandum terutama dalam bentuk tepung terigu sangatlah tinggi. Dengan menjadikan beton sebagai bahan pembuatan brownies, penulis juga berharap brownies beton ini dapat memberi inspirasi untuk mengembangkan inovasi dan kreasi terhadap beton sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis beton.
RUMUSAN MASALAH
            Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: bagaimanakah pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk?
TUJUAN
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah ragi tempe terhadap kualitas pembuatan tempe dari artocarpus heterophyllus lamk
METODE
1.      Variabel    
a.       Variabel bebas             : jumlah ragi tempe
b.      Variabel terikat           : sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, kekentalan)
c.       Variabel kontrol          : masa
2.      Alat dan bahan
a.       Alat
1)      Panci                                                                     1 buah
2)      Kompor                                                                 1 buah
3)      Sendok                                                                  1 buah
4)      Baskom kedap udara                                            1 buah
5)      Gelas ukur                                                             1 buah
6)      Kain tebal                                                              1 buah
b.      Bahan
1)      Susu cair                                                                600 mL
2)      Susu bubuk full cream                                          6 sendok makan
3)      Starter yogurt cair (Yakult)                                   3 sendok makan
4)      Starter yogurt padat (Bio Kul Plain Yogurt)        3 sendok makan
3.      Langkah kerja
a.       Memasukkan 6 sendok makan susu bubuk full cream ke dalam 600 mL susu cair
b.      Memanaskan susu dengan suhu 80o C. Suhu dijaga agar stabil selama 15 menit untuk sterilisasi, sambil terus diaduk agar susu tidak pecah.
c.       Mendinginkan susu dengan cara diangin-anginkan. Menunggu hingga suhu hangat-hangat kuku (tidak sampai benar-benar dingin).
d.      Memasukkan 3 sendok makan yakult pada 300 mL susu dalam baskom pertama, mengaduk pelan-pelan hingga merata.
e.       Memasukkan 3 sendok makan bio kul plain yogurt pada 300 mL susu dalam baskom kedua, mengaduk pelan-pelan. Proses pengadukan yang benar adalah masih ada butir-butir yogurt yang tersisa di dasar baskom.
f.       Menutup rapat  baskom hingga tidak ada udara yang dapat keluar-masuk.
g.      Membungkus baskom dengan kain tebal dan meletakkan baskom di tempat teduh dengan suhu ruang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut:
Sifat Organoleptik
Starter Yogurt Cair
Starter Yogurt Padat
Warna
Putih pucat
Putih agak kekuningan
Rasa
Dominasi masam tajam
Masam agak gurih
Aroma
Berbau masam agak segar
Berbau susu agak busuk
Kekentalan
Kental agak padat
Kental agak padat

            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, sifat organoleptik yang dapat diamati yaitu warna pada yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah putih pucat, sementara yogurt yang menggunakan starter yogurt padat warnanya putih agak kekuningan. Rasa yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah dominasi masam tajam, sementara yogurt yang menggunakan starter yogurt padat rasanya masam namun agak gurih. Aroma yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah berbau masam agak segar, sedangkan yogurt yang menggunakan starter yogurt padat berbau susu agak busuk. Kekentalan yogurt yang menggunakan starter yogurt cair adalah kental aga padat, sama seperti kekentalan yogurt yang menggunakan starter yogurt padat.
KESIMPULAN

            Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis starter yogurt yaitu padat dan cair dapat memengaruhi sifat organoleptik yogurt yang dihasilkan yaitu rasa, warna, dan aroma. Namun jenis starter tidak memengaruhi kekentalan yogurt yang dihasilkan.